Tak Rela Kalau Keperawanannya Dites Di Hutan

“Mendengarnya saja sudah ngeri apalagi sampai terjadi, saya amat tidak nyaman,” ujarnya pada KompasFemale di Jakarta, Rabu (21/8/2013) lalu.

Lenny bisa jadi satu di antara ibu yang merasa gelisah saat ini, apalagi tes keperawanan tidak hanya jadi sekadar kabar tapi mulai diusulkan sebagai aturan di sebuah sekolah menengah atas di Prabumulih, Sumatera Selatan.

Menurut dia, tes tersebut juga sangat diskriminatif terhadap perempuan. Jika kemudian diketahui anak tak lagi perawan, terus bagaimana? Apakah tidak boleh lanjut sekolah? Bagaimana dengan anak laki-laki? Berbagai pertanyaan akan terus bermunculan.

“Kalau memang mau fokus pada pengenalan seks pranikah atau moral, pasti ada sistem yang lain, misalnya dengan pendidikan agama atau pengenalan pendidikan mengenai seks,” ujarnya menambahkan.

Mengenai keperawanan, kata dia, juga tidak mungkin dites pada anak remaja atau gadis. Apalagi bagi mereka yang belum menikah. Sedikit berbagi cerita, Lenny sendiri merasa risih waktu bertemu dokter kandungan. Padahal pada saat itu usianya sudah 24 tahun, dan sudah menikah. Katanya, ada rasa aneh dan sedikit tidak nyaman ketika harus memperlihatkan organ intim pada orang lain.

Bagaimana jadinya bila ini terjadi pada anak, tentu juga akan berdampak secara psikologisnya.

“Anak tentu akan trauma dan bisa saja mengalami malu dan stres, dan saya tidak akan membiarkan itu terjadi pada anak saya,” ujarnya lugas.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Tuti Anto (45), yang putri bungsunya kini duduk di bangku SMP. Tes keperawanan dirasanya tidak perlu dilakukan untuk keperluan apapun, apakah untuk anak yang akan masuk sekolah, atau untuk perempuan yang akan menikah.

“Tes keperawanan itu pasti tuntutan dari pria, kan? Saya rasa itu tidak perlu dipenuhi, keperluannya apa? Apalagi kalau pemeriksaannya secara fisik. Kasihan anaknya, yang tadinya belum pernah disentuh lalu harus membuka pakaiannya di depan orang lain, pasti risih. Dampaknya pasti ke psikologis,” ujarnya.

Lenny percaya ada cara lain jika ingin mengenalkan tentang keperawanan dan atau hubungan dengan lawan jenis pada anak. Dia sendiri secara bertahap mengenalkannya dengan cara yang sederhana, seperti bertanya apakah sudah punya pacar atau belum. Lalu jika sudah, seperti apa pacarannya, apakah sudah pernah ciuman atau belum. Dari sini, maka obrolan bisa diarahkan pada bagaimana menjaga diri.

“Baik pada anak perempuan ataupun laki-laki, pada saatnya mereka harus tahu batasan bergaul, jadi tidak hanya yang perempuan saja,” ujarnya menegaskan.

Tuti mengungkapkan perlunya berkomunikasi dengan guru-guru di sekolah anaknya, supaya selalu waspada dengan perkembangan anak. Ia mengaku, selama ini menganggap anak keduanya, meski sudah di bangku SMA, masih seperti anak-anak. Tetapi dari guru-guru di sekolah, Tuti disadarkan bahwa anak-anak sebenarnya tidak “sepolos” anggapan orangtua.

“Anak bungsu saya sudah mulai senang mengurung diri di kamar, lalu SMS-an, Facebook-an, ketawa-ketawa sendiri. Pernah dia kaget banget waktu saya tiba-tiba masuk. Tapi saya enggak langsung menegur sih, takutnya dia malah makin menutup diri,” ujarnya.

Tuti memilih untuk selalu mengawasi pergaulan anak-anaknya, misalnya mengarahkan untuk tidak terlalu percaya pada orang yang dikenal lewat Facebook. Ia juga selalu berkomunikasi dengan guru di sekolah. Oleh karenanya, tes keperawanan pun dianggapnya tidak perlu.

“Kayaknya kok (dengan mengadakan tes itu) kita jadi enggak percaya banget sama anak. Selalu terlibat dengan kehidupan anak, dan memberi pengertian, itu lebih penting,” tegasnya.

Memberi kepercayaan dan mengajak anak terbuka perihal masa puber dan hubungannya dengan lawan jenis menjadi penting buat orangtua. Bagi Lenny, dengan saling terbuka, anak juga kemudian memahami batasan dan rasanya tidak perlu dites.

Informasi Akurat Lainnya