Keperawanan Ancur Akibat Perilaku Seks Bebas

Direktur Suara Parangpuang Sulawesi Utara, Lily Djenaan, menganggap wacana tes keperawanan sama dengan mengomersialisasikan virginitas.

“Mengapa pemerintah harus mengatur soal perawan tidaknya seseorang. Dampaknya akan sangat besar. Bisa-bisa di kemudian hari bisnis operasi keperawanan akan menjamur,” ujar Lily kepada Kompas.com, Selasa (20/8/2013).

Pandangan tersebut disampaikan Lily menjawab rencana Dinas Pendidikan Prabumulih, Sumatera Selatan, yang akan melakukan tes keperawanan kepada semua siswi sekolah untuk mencegah tindakan mesum di kalangan siswa.

Menurut Lily, upaya menjaga anak-anak dari tindakan seks bebas bukanlah dijawab dengan tes keperawanan. “Tapi bagiamana melakukan proses pendidikan seks yang proporsional agar anak tiba pada pilihan untuk tidak melakukan seks bebas pada usia dini,” tambah Lily.

Misalkan hal itu dilakukan, Lily mempertanyakan jika ditemukan siswi yang tidak lagi perawan. “Mau dibuang ke mana mereka?” tegasnya.

Lily berpendapat, masih banyak pendekatan yang lebih baik tanpa melakukan tes keperawanan. Menurutnya, otoritas tubuh perempuan ada pada diri perempuan itu sendiri.

Sementara itu, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Sulut,  Mieke Pangkong, memandang bahwa tes keperawanan pada dasarnya melanggar hak asasi manusia.

“Harus dilakukan kajian secara cerdas dan mendalam sebelum hal ini benar-benar dilakukan,” ujar Mieke.

Wacana pemberlakuan tes keperawanan dalam penerimaan siswi di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan, mendapat tanggapan luas dari berbagai kalangan. Di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, Dewan Pendidikan setempat pun turut memberikan pandangannya.

Akhmad Zaini, anggota Dewan Pendidikan Pamekasan, kepada Kompas.com, Selasa (20/8/2013), mengatakan, tes keperawanan untuk masuk sekolah memerlukan kajian yang mendalam. Menurutnya, keperawanan tidak hanya persoalan medis, tetapi juga sosial dan psikologis.

“Orang tidak perawan bisa saja karena kecelakaan atau karena olahraga tertentu, selain karena faktor seks bebas,” ungkap Zaini.

Selain itu, kebijakan macam itu tentu akan mendatangkan gelombang protes dari kalangan orangtua murid. Bayangkan, jika anak mereka tidak lulus masuk sekolah karena tidak perawan, tidak hanya pendidikan yang tercoreng, tetapi juga martabat keluarga dan asumsi negatif dari masyarakat pun akan muncul.

“Kalau punya anak tidak perawan maka itu menjadi aib bagi keluarga sebab keperawanan sangat sensitif,” imbuh Zaini.

Zaini lantas berpendapat, tes keperawanan membutuhkan pemikiran panjang untuk dilakukan. Ia malah menekankan, yang sangat mungkin dilakukan adalah penerapan tes narkoba kepada calon siswa, mengingat banyak pelajar yang telah mengonsumsi barang-barang haram tersebut.

Informasi Akurat Lainnya